Ubisoft akhirnya angkat bicara terkait kontroversi yang menyelimuti Assassin’s Creed Shadows, game terbaru dalam franchise Assassin’s Creed yang mengambil latar di Jepang feodal. Sejak pertama kali diumumkan, game ini mendapat kritik tajam dari media dan penggemar yang menilai bahwa Ubisoft tidak akurat dalam menggambarkan sejarah Jepang.
Melalui wawancara dengan 4Gamer.net, Ubisoft menegaskan bahwa Assassin’s Creed Shadows bukanlah dokumentasi sejarah, melainkan fiksi yang terinspirasi dari peristiwa nyata. Tim pengembang menyatakan bahwa tujuan mereka adalah membangkitkan minat pemain terhadap sejarah, bukan menggantikan fakta sejarah yang sebenarnya.

“Kami ingin orang-orang mengenal latar belakang sejarah dan peristiwa-peristiwa besar melalui game ini, lalu jika tertarik, mereka bisa pergi ke museum atau sumber lain untuk mempelajari sejarah yang sesungguhnya.” – Ubisoft
Pernyataan ini datang setelah beberapa cuplikan gameplay awal memicu reaksi negatif, termasuk seruan boikot dari sebagian komunitas. Namun, Ubisoft menegaskan bahwa sejak game pertama mereka rilis pada 2007, seri Assassin’s Creed memang selalu mengandung unsur fiksi dan dramatisasi untuk menciptakan pengalaman bermain yang lebih menarik.

Tim pengembang juga mengungkapkan bahwa mereka telah mempelajari banyak hal tentang budaya Jepang selama proses pengembangan game ini. Meski demikian, mereka mengakui bahwa masih banyak aspek sejarah Jepang yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Terlepas dari perdebatan yang muncul, Assassin’s Creed Shadows tetap dijadwalkan rilis pada 20 Maret 2025 mendatang. Kontroversi ini justru membuat game ini semakin menarik perhatian. Apakah kamu tertarik untuk memainkannya?

