Console, News

Shuhei Yoshida Ungkap Perannya dalam Menyelamatkan Gran Turismo dari Kegagalan

Di balik kesuksesan Gran Turismo sebagai salah satu seri game balap paling ikonik, rupanya terdapat kisah menarik tentang bagaimana game ini nyaris gagal saat pertama kali dikembangkan. Bukan karena masalah teknis, melainkan karena pendekatan simulasi ekstrem yang awalnya diterapkan oleh Kazunori Yamauchi, sang kreator dari Polyphony Digital.

Dalam sebuah wawancara oleh playstationinside.fr baru-baru ini, Shuhei Yoshida, mantan presiden PlayStation Studios, mengungkap bagaimana dirinya memberi masukan penting yang secara tidak langsung menyelamatkan Gran Turismo versi PlayStation 1 dari menjadi terlalu rumit untuk pemain umum.

Yoshida menceritakan bahwa saat dirinya pertama kali mencoba versi prototipe Gran Turismo, ia langsung menyadari bahwa Yamauchi sangat serius dengan konsep “Real Driving Simulator”. Meskipun realistis, game tersebut dinilai terlalu sulit dan tidak ramah bagi pemain baru.

Shuhei Yoshida Ungkap Perannya dalam Menyelamatkan Gran Turismo dari Kegagalan

“Aku ingat jelas saat pertama memainkan prototipe-nya. Semua terasa terlalu simulatif. Bahkan saat diuji oleh sekitar 30 orang—yang sebagian adalah developer—semuanya mengalami kecelakaan di tikungan pertama. Tak satu pun yang berhasil menguasai kendali,” ujar Yoshida sambil tertawa.

Melihat hasil uji coba tersebut, Yamauchi akhirnya mengakui bahwa tingkat kesulitannya memang terlalu tinggi dan memutuskan untuk menyesuaikan gameplay agar lebih ramah pengguna. Perubahan tersebut kemudian melahirkan Gran Turismo versi final yang kini dikenal sebagai salah satu pionir game balap modern.

Yoshida mengenang momen itu dengan bangga, “Saya bukan desainer game, tapi sebagai produser, saya rasa saya punya naluri yang tepat. Dalam beberapa hal, saya merasa ikut andil menyelamatkan masa depan Gran Turismo.”

Kini, Gran Turismo telah menjadi franchise besar dengan jutaan penggemar di seluruh dunia. Game ini dikenal sebagai tolok ukur simulasi balap yang seimbang antara realisme dan aksesibilitas.

Tanpa masukan Yoshida saat itu, besar kemungkinan Gran Turismo akan menjadi game niche yang hanya bisa dinikmati oleh pemain hardcore. Keputusan untuk mengurangi unsur simulasi ekstrem menjadi titik penting yang membuat game ini sukses secara global.