Death Stranding 2: On the Beach, game terbaru garapan Hideo Kojima, resmi dirilis dan langsung mendapat sambutan hangat dari kritikus dan penggemar. Dengan skor rata-rata 90 di Metacritic, game ini menjadi salah satu judul dengan rating tertinggi sepanjang tahun 2025. Namun di balik pencapaian tersebut, muncul kontroversi terkait salah satu ulasan negatif yang menyebut “questionable tropes around women” sebagai kekurangan utama dari game ini.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari komunitas gaming global, khususnya para penggemar Kojima Productions. Banyak yang merasa bahwa alasan tersebut tidak berdasar dan terlalu dipengaruhi oleh agenda sosial atau budaya tertentu, bukan pada kualitas game itu sendiri.
Mayoritas Review Positif, Tapi Satu Kritik Picu Protes

Sebagian besar media game ternama memuji Death Stranding 2 atas kualitas narasi, visual sinematik, gameplay yang imersif, serta pendekatan inovatif Kojima dalam membangun dunia yang penuh makna. Bahkan banyak yang menyebut game ini sebagai “sekuel yang lebih matang dan emosional dari pendahulunya.”
Namun, satu ulasan dari media populer menurunkan skor game menjadi 7/10 hanya karena merasa terdapat “tropes atau penggambaran perempuan yang dipertanyakan.” Meskipun tidak dijelaskan secara rinci bagian mana yang dianggap bermasalah, ulasan ini menyebut representasi karakter wanita dalam game sebagai salah satu kelemahan utama.
Ulasan ini sontak menuai kritik dari para gamer di media sosial, khususnya di X (Twitter), dengan banyak yang menyebutnya sebagai ulasan yang “tidak relevan” dan “bermuatan agenda.” Bahkan, sebagian pengguna menyindir bahwa review tersebut membuat mereka semakin tertarik membeli game ini.
Komentar-komentar seperti:
“Questionable female tropes? Is this a game review or DEI checklist?“
“Not woke enough? Looks like I’ll be grabbing a copy!“
“Thanks for making it easier not to trust you.“
menjadi bukti bagaimana respons publik terhadap kritik semacam ini bisa berdampak balik secara positif terhadap penjualan game.
Isu Representasi dan Pengaruh DEI dalam Industri Game
Kontroversi ini memunculkan kembali diskusi lama di dunia industri game: seberapa besar pengaruh agenda sosial, khususnya Diversity, Equity, and Inclusion (DEI), terhadap penilaian terhadap karya kreatif?
Beberapa pihak menilai bahwa media terlalu memaksakan standar representasi dalam setiap karya hiburan, termasuk video game, tanpa mempertimbangkan konteks naratif dan budaya dari game itu sendiri. Dalam kasus Death Stranding 2, banyak yang berpendapat bahwa karakter perempuan dalam game memiliki kedalaman dan peran penting dalam cerita, sehingga kritik tersebut dianggap tidak proporsional.
Salah satu hal menarik adalah bahwa reviewer yang memberikan skor rendah ini diketahui sebelumnya memberikan penilaian tinggi pada game Concord, sebuah judul lain yang sempat menuai kritik dari gamer karena dianggap terlalu mengedepankan aspek representasi namun minim inovasi gameplay.
Fenomena Serupa Terjadi di Game Lain
Kasus ini bukan satu-satunya. Sebelumnya, game action-RPG Black Myth: Wukong juga mendapat kritik dari sejumlah reviewer karena dianggap “tidak cukup inklusif,” meskipun game tersebut secara jelas didasarkan pada mitologi Tiongkok dengan karakter utama seekor kera sakti. Hal ini memunculkan pertanyaan besar dari komunitas global: apakah semua game harus tunduk pada standar representasi yang sama, bahkan ketika mereka mengangkat tema budaya spesifik?
Reaksi Penggemar dan Dukungan untuk Kojima

Di tengah kontroversi, komunitas penggemar Hideo Kojima tetap solid mendukung karya barunya. Banyak yang percaya bahwa Death Stranding 2 tetap layak disebut sebagai salah satu game terbaik tahun ini, bahkan mungkin sebagai kandidat kuat Game of the Year (GOTY). Komentar yang menyindir review negatif justru berujung pada promosi tidak langsung bagi game ini.
Death Stranding 2 juga menjadi perbincangan karena Kojima sempat menyatakan bahwa dirinya tidak ingin semua orang menyukai game-nya, dan ingin menciptakan karya yang menantang, penuh interpretasi, dan tidak bersifat umum. Hal ini membuat para penggemar justru semakin yakin bahwa visi artistik Kojima tetap utuh.
Pre-Order dan Antusiasme Pasar
Trailer Death Stranding 2: On the Beach telah dirilis bersamaan dengan pembukaan pre-order. Antusiasme tinggi terlihat dari respon komunitas yang beramai-ramai menyatakan akan membeli game ini di hari pertama rilis. Banyak yang merasa bahwa jika sebuah game bisa memancing kritik “tidak wajar” dari media tertentu, maka kemungkinan besar game tersebut menyajikan sesuatu yang berani dan orisinal.
Penutup: Kritik yang Memicu Dukungan
Pada akhirnya, kontroversi seputar Death Stranding 2 mencerminkan dinamika kompleks dalam dunia kritik game modern. Di satu sisi, media berhak mengemukakan pandangan kritis, namun di sisi lain, gamer juga memiliki suara yang kuat dalam menentukan kualitas sebuah karya.
Apakah kritik soal representasi perempuan layak menjadi alasan penurunan skor sebuah game? Atau justru hal ini menjadi bukti bahwa karya seperti Death Stranding 2 berhasil menggugah perdebatan yang lebih luas?
Yang jelas, game ini telah berhasil menarik perhatian publik — baik lewat kualitas maupun kontroversi. Dan itu, dalam dunia hiburan, adalah sebuah pencapaian tersendiri.

