Game Mobile, News, PC

64.700 Gen Z Tolak Kebijakan DPR Lewat Demo Online di Roblox

Fenomena unik terjadi di dunia maya ketika 64.700 pemain Gen Z turun ke jalan virtual lewat server Roblox “[BETA] Demo Indo Roleplay”. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan kontroversial DPR RI, sekaligus menandai cara baru generasi muda menyuarakan aspirasi.

Server besutan Kora’s Studio ini resmi dibuat pada 29 Agustus 2025, bertepatan dengan momen demonstrasi fisik yang memanas setelah insiden tragis menimpa Affan Kurniawan. Dengan kapasitas maksimal 50 pemain per lobi, server tersebut berhasil menyedot perhatian puluhan ribu partisipan hanya dalam sehari.

Bagi para pemain, demo online menjadi alternatif aman untuk menyuarakan pendapat tanpa harus menghadapi risiko bentrok di jalanan. Keberhasilan aksi ini juga memperlihatkan bagaimana Gen Z menggunakan kreativitas dan teknologi untuk mengorganisasi gerakan sosial secara digital.

Dari Jalanan ke Dunia Maya

64.700 Gen Z Tolak Kebijakan DPR Lewat Demo Online di Roblox

Kondisi lapangan yang awalnya tenang berubah memanas usai insiden tabrak lari oleh kendaraan Rantis Brimob. Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat, terutama anak muda, memilih menyalurkan protesnya di ruang digital.

Uniknya, di tengah ketegangan, sempat terjadi interaksi ringan antara massa dan aparat yang viral di media sosial. Salah satunya adalah ajakan untuk bermain Roblox yang dilontarkan seorang demonstran kepada personel TNI. Momen ini menggambarkan gaya ekspresi khas Gen Z yang tetap ringan, bahkan dalam kondisi serius.

Roblox Sebagai Ruang Publik Baru

Fenomena demonstrasi di Roblox ini menegaskan bahwa metaverse kini berfungsi sebagai ruang publik alternatif. Bagi Gen Z, platform digital seperti Roblox tidak hanya tempat bermain, tetapi juga sarana berdiskusi, berorganisasi, dan menyuarakan pendapat.

Ketika ruang fisik kerap dibatasi, ruang digital justru membuka kebebasan baru. Aksi demo online ini menjadi sinyal bagi pemerintah bahwa suara rakyat tidak bisa lagi diabaikan, baik di jalanan maupun di dunia maya.

Jika tidak ditanggapi dengan bijak, bentuk aktivisme digital semacam ini berpotensi terus berkembang dan menjangkau audiens yang lebih luas, bahkan lintas negara.

Kasus ini menjadi studi penting bagi masa depan partisipasi politik. Generasi mendatang kemungkinan besar akan semakin memanfaatkan platform digital untuk menyuarakan aspirasi. Dengan demikian, pemerintah dituntut untuk lebih responsif terhadap gelombang aktivisme baru yang lahir dari dunia maya.