Microsoft secara resmi mengumumkan perangkat handheld Xbox terbarunya awal bulan ini, yakni ROG Xbox Ally. Namun sambutan dari komunitas gamer masih terpecah. Di tengah antusiasme atas langkah Microsoft merambah pasar konsol genggam, kritik tajam datang dari salah satu pendiri tim Xbox sendiri, Laura Fryer.
Fryer, yang merupakan veteran dari tim pengembangan Xbox generasi pertama, menyampaikan pandangannya dalam sebuah video diskusi. Ia menyayangkan arah baru Microsoft yang dinilainya menjauh dari inovasi perangkat keras yang selama ini menjadi ciri khas Xbox.
“Perangkat ini menjalankan Windows dan hanya mendukung judul Xbox Play Anywhere. Itu artinya, game eksklusif konsol seperti Ninja Gaiden Black atau Sonic Unleashed tidak bisa dimainkan,” ujar Fryer.
Menurutnya, hal ini membuat Xbox handheld terbaru lebih mirip PC berbasis Windows dengan fitur tambahan Xbox, ketimbang sebuah konsol genggam murni. Dengan kata lain, para gamer bisa saja membangun PC gaming portabel sendiri, atau bahkan memilih alternatif lain seperti Steam Deck yang berbasis Linux dan menawarkan pengalaman lebih fleksibel.

Tak hanya dari sisi fungsi, Fryer juga menyoroti harga yang diprediksi tidak ramah kantong. Berdasarkan rumor yang beredar, perangkat ini akan dibanderol mulai dari €599 (sekitar Rp10 juta), membuatnya berada di kelas harga yang sama dengan banyak PC gaming portabel lain di pasaran.
“Xbox handheld ini tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru atau unik. Kalau hanya ingin memainkan game Xbox di perangkat genggam, ada banyak pilihan yang lebih masuk akal. Secara pribadi, saya rasa tidak ada alasan kuat untuk membeli perangkat ini,” tambahnya.

Fryer bahkan menyatakan bahwa divisi perangkat keras Xbox kini berada di titik nadir. “Saya sedih melihat kondisi ini. Dulu kami bangga dengan inovasi hardware. Tapi sekarang? Saya rasa Xbox hardware sudah mati.”
Pernyataan Laura Fryer menambah panjang daftar kritik yang diarahkan pada perangkat handheld Xbox. Sebelumnya, bos Blizzard juga pernah menyarankan Microsoft untuk lebih fokus mengembangkan game ketimbang menciptakan perangkat keras yang tidak dibutuhkan pasar.
Dengan berbagai reaksi yang muncul, nasib Xbox handheld masih menjadi tanda tanya besar di kalangan gamer. Apakah Microsoft akan mendengarkan masukan dari para veteran industri, atau tetap melanjutkan langkah barunya ini?
Bagaimana menurutmu, apakah Xbox handheld ini layak dibeli?

