Siapa sangka, di balik dinginnya pangkalan bulan dan ancaman robot penghancur, Pragmata justru menjadi sebuah “simulasi” menjadi ayah yang luar biasa emosional. Setelah berulang kali melihat trailer-nya yang misterius, JagoGame.id akhirnya mendapatkan kesempatan eksklusif dari Capcom untuk mengulas tuntas perjalanan Hugh dan Diana. Jujur saja, setelah memainkan game ini hingga tamat, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Bukan sekadar aksi tembak-menembak, daya tarik utama Pragmata justru terletak pada sosok Diana. Melihat tingkah lucu android kecil ini—mulai dari ekspresi herannya saat melihat benda baru hingga caranya bergantung pada Hugh—perlahan akan meluluhkan hati pemain paling “garang” sekalipun. Tanpa sadar, Pragmata mengajak kita merenungi indahnya memiliki keluarga dan tanggung jawab menjaga seseorang yang kita sayangi. Hugh bukan sekadar karakter utama; dia adalah cerminan seorang ayah yang optimis di tengah kiamat.
Sebagai IP baru, Pragmata memikul beban besar untuk membuktikan bahwa Capcom masih punya “taji” di luar franchise raksasa. Namun, apakah ikatan batin ini cukup kuat untuk menutupi tantangan teknis yang ada? Simak ulasan mendalam kami untuk mengetahui apakah Pragmata benar-benar layak menjadi koleksi wajibmu tahun ini! Yuk simak sama-sama review-nya berikut ini gaes!
Plot: Kisah “Papa Muda” di Pangkalan Bulan yang Meluluhkan Hati
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-2.jpg)
Pragmata membawa kita ke sebuah latar yang sangat kontras: sebuah pangkalan bulan futuristik yang megah namun terasa sunyi dan dingin. Di sini, kamu akan berperan sebagai Hugh, seorang teknisi ahli yang awalnya dikirim hanya untuk tugas rutin melakukan perbaikan fasilitas. Namun, karena ini adalah game besutan Capcom, kita semua tahu bahwa rencana tenang tersebut tidak akan bertahan lama. Situasi berubah menjadi mimpi buruk saat AI sentral yang mengelola pangkalan tersebut mendadak malfungsi, berbalik memusuhi manusia, dan mulai mencetak pasukan robot tanpa henti melalui teknologi lunar filament.
Di tengah pelarian mautnya, Hugh secara tak sengaja bertemu dengan Diana, seorang gadis android misterius dengan tampilan fisik yang menggemaskan namun dibekali kemampuan hacking yang sangat op (overpowered). Pertemuan inilah yang mengubah arah Pragmata dari sekadar game bertahan hidup menjadi sebuah perjalanan personal yang sangat menyentuh.
Bukan Sekadar “Sad Dad” Trope: Sebuah Segaran di Industri Game
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-3.jpg)
Jika kita menengok ke belakang, industri game belakangan ini sangat terobsesi dengan tema “Sad Dad”—sosok ayah yang dihantui masa lalu kelam, penuh trauma, dan cenderung kasar atau dingin dalam mendidik anaknya (seperti Joel di The Last of Us atau Kratos di God of War). Hugh di Pragmata hadir mendobrak pakem tersebut dengan cara yang sangat menyegarkan bagi para pemain milenial dan Gen Z.
Hugh bukanlah ayah yang depresi. Sebaliknya, dia digambarkan sebagai sosok yang sangat ceria, suportif, dan selalu optimis bahkan di situasi paling genting sekalipun. Alih-alih melampiaskan amarah pada dunia yang hancur, Hugh justru sering bercerita tentang betapa indahnya kenangan rumahnya dan betapa dia merasa dicintai oleh keluarganya. Sikap positif ini memberikan dinamika yang luar biasa unik saat dia berinteraksi dengan Diana.
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-19.jpg)
Melihat cara Hugh menjaga Diana—memastikan dia aman, memberikan pujian setiap kali Diana berhasil membantu, hingga ekspresi protektifnya saat Diana mulai menunjukkan rasa ingin tahu tentang dunia luar—bisa membuat siapa pun yang memainkannya mendadak ingin memiliki anak atau berkeluarga. Diana sendiri bukan sekadar aset statis; dia adalah pusat emosional dalam game ini. Tingkah lakunya yang polos, meski sebenarnya dia hanyalah versi canggih dari kecerdasan buatan, membuat kita sebagai pemain merasa memiliki tanggung jawab nyata untuk membimbingnya.
Interaksi mereka di tengah pangkalan bulan yang berbahaya seolah menjadi pengingat bahwa di tempat paling terpencil dan mematikan sekalipun, kehangatan sebuah keluarga dan kasih sayang tulus tetap menjadi kekuatan terbesar untuk terus bertahan hidup. Inilah yang membuat narasi Pragmata terasa jauh lebih personal dibandingkan game aksi lainnya.
Nah jadi semakin penasaran gimana kisah Hugh dan Diana kan? Pastiin kamu main Pragmata dan rasakan sensasinya sendiri ya!
Gameplay: Sensasi Resident Evil dalam Balutan Sci-Fi yang Nagih
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-7.jpg)
Jika kamu pernah menghabiskan waktu berjam-jam menangkis serangan ganado di Resident Evil 4 Remake, kamu akan langsung merasa “klik” saat pertama kali memegang kontroler di Pragmata. Capcom sepertinya benar-benar membawa seluruh “resep rahasia” dan pelajaran berharga dari seri Resident Evil modern untuk membangun pondasi permainan di sini. Kamu akan merasakan pergerakan kamera orang ketiga (third-person) yang terasa sangat presisi, berat, namun tetap responsif—sebuah signature yang bikin setiap aksi terasa begitu memuaskan.
Namun, jangan salah sangka; ini bukan sekadar survival horror yang berganti kostum jadi astronot. Pragmata adalah evolusi yang lebih berani. Capcom menciptakan sebuah gameplay loop yang terasa sangat “video game banget” dalam artian yang positif. Alih-alih sibuk mengatur manajemen inventaris yang bikin stres atau pusing mencari peluru, kamu diajak untuk lebih fokus pada ritme pertempuran dan pengambilan keputusan yang cepat.
Combat Unik: Strategi Hacking yang Menantang Adrenalin
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-5.jpg)
Inti dari keseruan pertempuran di Pragmata terletak pada sinergi maut antara dua karakter utamanya. Sistem pertarungannya bukan sekadar spray and pray, melainkan sebuah perpaduan cerdas antara aksi baku tembak dan elemen teka-teki (puzzle) yang harus diselesaikan secara real-time di tengah medan tempur.
Hugh adalah otot dari tim ini. Tugas utamanya adalah menangani serangan fisik dan menggunakan berbagai senjata api canggih untuk menghancurkan cangkang luar musuh yang keras. Setiap musuh punya titik lemah unik yang memaksa kamu untuk membidik secara cermat, bukan asal tembak. Di sisi lain, Diana adalah otak dibalik setiap kemenangan. Saat kamu membidik musuh, kamu bisa mengakses sistem hacking Diana yang muncul dalam bentuk grid digital.
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-21.jpg)
Di sinilah letak keseruannya: kamu harus menavigasi grid hacking tersebut menggunakan tombol face pada kontroler (segitiga, kotak, bulat, atau silang) sambil tetap waspada terhadap serangan lawan. Semakin banyak titik atau node yang berhasil kamu lewati sebelum menekan tombol aktivasi akhir, semakin dahsyat efek yang dihasilkan. Kamu bisa membekukan robot musuh di tempatnya, membuat mereka saling serang karena bingung, hingga memicu ledakan panas yang menghancurkan pertahanan mereka secara instan.
Namun, jangan sampai lengah karena terlalu asyik memilih menu hack. Jika Hugh terkena serangan musuh saat proses hacking sedang berjalan, seluruh progresmu akan langsung ter-reset ke nol. Mekanik ini menciptakan sensasi high-risk, high-reward yang bikin jantung berdegup kencang. Kamu dipaksa untuk terus bergerak, melakukan dodge di waktu yang tepat, sambil jemarimu sibuk melakukan input perintah hacking untuk Diana. Hasilnya? Sebuah tarian pertempuran yang taktis, modern, dan pastinya memberikan kepuasan maksimal setiap kali sebuah strategi berhasil melumpuhkan pasukan robot raksasa.
Visual yang “Membakar” Mata dan Spesifikasi PC
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-45.jpg)
Pragmata adalah salah satu game paling estetik dan indah secara visual yang rilis di tahun 2026. Berkat modifikasi mutakhir pada RE Engine, setiap detail terasa begitu nyata. Mulai dari pantulan cahaya pada baju zirah Hugh yang terlihat sangat teknis, hingga tekstur kulit dan ekspresi wajah Diana yang sangat halus, semuanya berada di level yang benar-benar berbeda.
Untuk menguji kebuasan visualnya, kami menggunakan spesifikasi yang cukup mumpuni: prosesor AMD Ryzen 9 6900HS yang dipadukan dengan GPU NVIDIA GeForce RTX 3070 Ti, serta dukungan RAM 32 GB DDR5 dan SSD NVMe 1 TB. Hasilnya? Luar biasa stabil. Berkat dukungan teknologi DLSS 4, kami bisa menikmati fitur Frame Generation yang membuat pergerakan terasa sangat mulus.
Di resolusi 4K dengan setting Max, saya mendapatkan rata-rata 140 FPS. Begitu fitur DLSS diaktifkan, angka tersebut langsung meroket hingga 240 FPS! Namun, jika kamu ingin mencoba Path Tracing untuk mendapatkan atmosfer bulan yang paling imersif, kamu perlu bersiap. Fitur ini sangat haus daya dan meski berjalan baik di spek PC yang saya gunakan, penggunaan GPU seri RTX 50 tetap sangat disarankan untuk pengalaman paling maksimal.
Dunia yang “Video Game Banget”: Keberanian Capcom Menghibur Pemain
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-54.jpg)
Satu hal yang paling membekas dan membuat saya sangat menyukai Pragmata adalah keberanian Capcom untuk tetap setia pada jati dirinya: sebuah video game. Di era sekarang, banyak developer kelas kakap (AAA) yang terlalu terobsesi dengan “hiper-realisme”. Mereka sering kali berusaha keras menyembunyikan elemen-elemen tradisional game—seperti menu upgrade atau tantangan tambahan—di balik narasi yang terkadang terasa dipaksakan agar terlihat seperti film layar lebar.
Namun, Capcom mengambil arah yang berbeda. Mereka justru seolah berteriak, “Ya, ini adalah video game, dan ini sangat seru!” Segala elemen yang membuat kita jatuh cinta pada hobi ini justru ditonjolkan tanpa rasa malu. Kamu tidak perlu mencari alasan logis mengapa ada kotak harta karun di tengah pangkalan bulan atau mengapa kamu harus mengumpulkan koin. Kamu hanya perlu menikmatinya.
Eksplorasi yang Padat dengan Reward Nyata
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-56.jpg)
Dalam petualangan Hugh dan Diana, kamu akan menemukan berbagai fitur klasik yang dikemas secara modern dan sangat adiktif. Salah satunya adalah VR Training Missions. Ini bukan sekadar tutorial yang membosankan, melainkan ruang simulasi khusus di mana kamu bisa melatih kombo skill baru sambil memburu mata uang in-game. Beberapa tantangan di sini bahkan jauh lebih seru dan kreatif dibandingkan pertempuran di misi utama.
Selain itu, pangkalan bulan ini dipenuhi dengan Collectibles & Currencies yang bertebaran di setiap sudut. Menariknya, sistem ping pada peta memudahkan kita untuk menemukannya tanpa harus merasa frustrasi. Barang-barang koleksi ini bukan sekadar pajangan; mereka adalah kunci untuk meng-upgrade kemampuan Hugh atau membuka berbagai kostum (outfit) keren untuk Diana yang bisa kamu ganti kapan saja di area Shelter.
Sistem progresnya pun sangat unik dengan kehadiran Bingo Boards. Alih-alih pohon skill (skill tree) yang linear dan membosankan, sistem papan bingo ini memberikan kebebasan bagi pemain untuk memprioritaskan peningkatan apa yang paling mereka butuhkan. Ingin lebih kuat di serangan fisik atau lebih canggih dalam hacking? Pilihan ada di tanganmu.
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-66.jpg)
Semua elemen “tradisional” ini, dipadukan dengan grafis yang memukau, membuat Pragmata memiliki nilai replay value yang sangat tinggi. Sensasinya benar-benar mirip dengan sistem New Game Plus pada seri Resident Evil, di mana kamu akan merasa tertantang untuk mengulang permainan di tingkat kesulitan lebih tinggi demi melengkapi seluruh koleksi dan rahasia yang tersisa. Capcom berhasil membuktikan bahwa game tidak perlu menyembunyikan identitasnya untuk menjadi sebuah mahakarya yang imersif dan tetap sangat menyenangkan untuk dimainkan berulang kali.
Kesimpulan: Apakah Layak Menjadi Penghuni Library-mu?
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-70.jpg)
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri sudut-sudut pangkalan bulan, saya menyimpulkan bahwa Pragmata adalah sebuah pengalaman yang solid, estetik, dan sangat menyenangkan. Capcom berhasil meramu elemen-elemen yang sudah familiar dari seri Resident Evil dan menyulapnya menjadi sesuatu yang terasa segar di dunia sci-fi. Visualnya yang “gacor” bukan sekadar pemanis, tapi benar-benar mendukung imersi saat kamu menjaga Diana di tengah kekacauan.
Namun, jujur saja, Pragmata masih kekurangan sedikit “faktor X” untuk menjadi sebuah mahakarya instan yang legendaris. Ceritanya tergolong aman dan cukup mudah ditebak, di mana beberapa tema mendalam mengenai etika AI sebenarnya punya potensi besar untuk digali lebih jauh namun sayangnya hanya tersentuh di permukaan. Meski begitu, hubungan wholesome antara Hugh dan Diana tetap menjadi perekat emosional yang kuat hingga akhir.
Satu hal yang tidak tertulis di balik spesifikasi teknis atau mekanik combat adalah bagaimana Pragmata secara tidak langsung menjadi sebuah “surat cinta” bagi konsep kebapakan. Lewat karakter Hugh, kita tidak hanya diajak menjadi petarung yang handal, tetapi juga diajak merasakan naluri pelindung seorang Ayah.
![[REVIEW] Pragmata (PC), Ketika Resident Evil "Pindah" ke Bulan dengan Simulasi Menjadi Seorang Ayah!](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/04/Review-Pragmata-69.jpg)
Game ini seolah membisikkan bahwa menjadi seorang Ayah adalah petualangan paling epik yang bisa dialami laki-laki. Tingkah Diana yang polos, rasa ingin tahunya yang besar terhadap hal-hal kecil, hingga cara dia bergantung pada Hugh, benar-benar memicu keinginan bagi siapa pun yang memainkannya untuk memiliki sosok anak yang lucu dan cerdas di dunia nyata.
Dengan harga sekitar Rp779.000 di Steam, Pragmata berhasil membuktikan bahwa kebahagiaan terbesar seorang pria bukanlah saat ia berhasil menaklukkan robot raksasa, melainkan saat ia mampu menjadi sandaran bagi sosok kecil yang berharga. Lewat Hugh, kita belajar bahwa optimisme dan kasih sayang adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi dunia yang sedang hancur sekalipun.
| Kategori Penilaian | Skor | Catatan Utama |
| Grafis & Visual | 9.5/10 | Detail suit Hugh dan ekspresi Diana sangat next-gen, didukung Path Tracing yang memukau. |
| Gameplay & Mekanik | 8.5/10 | Sinergi hacking Diana dan aksi Hugh sangat segar, meski eksplorasi terasa linear. |
| Narasi & Karakter | 8.0/10 | Hubungan Hugh-Diana yang wholesome sukses bikin baper, walau plot utamanya cukup standar. |
| Performa Teknis | 9.0/10 | Optimasi RE Engine luar biasa stabil di PC, terutama dengan dukungan penuh DLSS 4. |
| Replay Value | 8.0/10 | Sistem Bingo Board dan New Game Plus ala Resident Evil bikin nagih buat main lagi. |
| TOTAL SKOR | 8.6/10 | RECOMMENDED! |

