Setelah kesuksesan fenomenal Black Myth: Wukong yang memecahkan berbagai rekor dan menjadi game single-player terpopuler di Steam hingga saat ini, industri game AAA asal Tiongkok terus menunjukkan taringnya di panggung global. Tidak hanya Phantom Blade Zero yang sedang menjadi perbincangan, kini muncul satu lagi proyek ambisius yang siap mencuri perhatian gamer dunia — The Lost Heaven.
Dikembangkan oleh studio asal Tiongkok yang namanya mulai mencuat, The Lost Heaven mengambil inspirasi jelas dari seri populer The Last of Us, namun menambahkan sentuhan unik yang membedakannya: kehadiran robot raksasa di dunia pasca-apokaliptik.

Baru-baru ini, sang pengembang merilis gameplay demo yang memperlihatkan sekilas apa yang bisa diharapkan. Game ini mengusung narasi kuat, berlatar dunia yang berada di ambang kehancuran, di mana pemain harus bertahan hidup menghadapi ancaman lingkungan, musuh manusia, dan tentu saja, mesin raksasa. Menariknya, beberapa robot hadir sebagai rekan atau companion yang membantu perjalanan pemain.
Dari segi combat, The Lost Heaven tampak menjanjikan. Sistem pertarungan jarak dekat (melee) digarap dengan detail, membuat setiap pukulan terasa berat dan memuaskan — mirip seperti komentar seorang mantan developer Rockstar yang menyarankan agar game lain belajar dari The Last of Us Part II. Sementara itu, gunplay-nya juga terlihat solid, meski nuansa permainan lebih condong ke arah game linear dibanding dunia terbuka.
Untuk traversal atau pergerakan karakter, memang masih terlihat belum sehalus standar game AAA top dunia, namun mengingat statusnya yang masih dalam pengembangan, potensi peningkatannya sangat besar.

Belum ada tanggal rilis resmi, namun dari informasi pada video YouTube resminya, The Lost Heaven menargetkan jendela peluncuran di tahun 2026.
Dengan kombinasi narasi emosional ala The Last of Us, atmosfer post-apocalypse, serta elemen robot raksasa yang unik, The Lost Heaven berpotensi menjadi salah satu game AAA paling dinantikan dari Asia.
Bagaimana menurutmu? Apakah The Lost Heaven bisa menjadi The Last of Us-nya Tiongkok?

