Gelombang keresahan tengah melanda para pengguna PlayStation di seluruh dunia. Kabar mengejutkan datang mengenai kebijakan Digital Rights Management (DRM) terbaru dari Sony yang diduga mulai diterapkan secara senyap. Kebijakan ini dikabarkan mewajibkan konsol PlayStation 4 dan PlayStation 5 untuk melakukan verifikasi lisensi secara online setiap 30 hari sekali, khusus untuk game digital yang dibeli mulai April 2026.
Isu ini pertama kali mencuat setelah pengamat teknologi kenamaan, Lance McDonald, menemukan adanya sistem “cek lisensi” rutin tersebut. Jika sebuah konsol tidak terhubung ke internet dalam jangka waktu 30 hari, akses ke judul game yang telah dibayar lunas akan terkunci secara otomatis hingga pengguna kembali online.
Hugely terrible DRM has now been rolled out to all PS4 and PS5 digital games. Every digital game you buy now requires an online check-in every 30 days. If you buy a digital game and don't connect your console to the internet for 30 days, your license will be removed. pic.twitter.com/23gU16CIkx
— Lance McDonald (@manfightdragon) April 25, 2026
Keamanan Ketat atau Sekadar Kesalahan Sistem?
Banyak pihak berspekulasi bahwa langkah drastis ini diambil Sony untuk memerangi praktik jailbreaking dan pembajakan yang kian marak. Dengan mewajibkan konsol “melapor” secara berkala ke server pusat, Sony dapat memastikan bahwa setiap aplikasi yang dijalankan adalah konten orisinal dan legal.
I’ve also been experimenting with this, and I can confirm that if your CMOS battery dies, any digital game with the timer becomes unplayable again, even if the console is set as the primary.
This is a digital game I purchased with money yesterday. I didn’t claim it with PS Plus. https://t.co/FzNlfHnyIj pic.twitter.com/SFmjPdOg6c
— Destruction Games〡DoesItPlay (@desgamesyt) April 25, 2026
Namun, ada pula sudut pandang lain dari komunitas preservasi game, DoesItPlay?. Berdasarkan informasi dari orang dalam, ada kemungkinan bahwa sistem penguncian ini merupakan sebuah bug atau kesalahan teknis yang tidak sengaja muncul saat Sony mencoba memperbaiki celah keamanan tertentu. Kabarnya, Sony menyadari kebingungan pada antarmuka pengguna (UI) ini, namun belum menganggapnya sebagai prioritas utama untuk diperbaiki.
Peringatan Bagi Pemilik Konten Digital

Terlepas dari apakah ini sebuah fitur keamanan yang disengaja atau sekadar kesalahan teknis, fenomena ini menjadi pengingat keras bagi gamer mengenai hak kepemilikan digital. Kejadian ini mempertegas realitas bahwa dalam ekosistem digital, kita seringkali hanya “menyewa” lisensi akses, bukan benar-benar memiliki produk tersebut secara permanen.
Hingga saat ini, Sony masih memilih untuk bungkam. Bagi kamu pemilik pustaka game digital yang besar, sangat disarankan untuk tetap menghubungkan konsol ke internet secara berkala guna menghindari gangguan saat ingin bermain secara offline. Situasi ini semakin memperkuat urgensi gerakan perlindungan hak konsumen agar akses terhadap produk yang sudah dibeli tidak hilang begitu saja akibat kebijakan sepihak perusahaan.

