Industri gaming baru saja dikejutkan dengan kepastian mengenai isu Digital Rights Management (DRM) yang tengah memanas. Setelah sempat memicu perdebatan mengenai apakah ini merupakan sebuah kesalahan teknis (bug) atau fitur baru, pihak dukungan teknis PlayStation akhirnya mengonfirmasi bahwa sistem ini adalah pembaruan resmi yang disengaja oleh Sony.
Kebijakan ini menetapkan aturan ketat bagi pemilik konten digital: setiap game yang dibeli melalui PlayStation Store setelah Maret 2026 akan memiliki “masa berlaku” lisensi selama 30 hari. Jika konsol PlayStation 4 atau PlayStation 5 Anda tidak terhubung ke internet dalam periode tersebut, lisensi game akan kedaluwarsa secara otomatis dan game tidak akan bisa dijalankan hingga koneksi internet dipulihkan.
Kepemilikan Digital yang Kian Terancam
Update: A user asked Ps support and confirmed DRM issue is intentional and not Bug. pic.twitter.com/n6Xpd6LYh5
— HazzadorGamin, Dragon of Dojima (@HazzadorGamin) April 27, 2026
Salah satu poin krusial yang diungkapkan adalah bahwa status konsol sebagai “Primary PS4/PS5” sekalipun tidak akan bisa melewati syarat verifikasi 30 hari ini. Hal ini memicu gelombang protes dari kalangan milenial dan Gen Z yang merasa hak kepemilikan mereka atas produk yang sudah dibayar lunas semakin dibatasi.
Meski demikian, terdapat sedikit kabar baik bagi para kolektor lama. Sony memastikan bahwa kebijakan ini tidak berlaku surut. Artinya, judul-judul game digital yang Anda beli sebelum Maret 2026 tetap dapat dimainkan secara offline tanpa perlu melakukan verifikasi rutin setiap bulan.
Alasan di Balik Keheningan Sony

Hingga saat ini, manajemen pusat Sony di Jepang masih belum mengeluarkan pernyataan resmi secara luas, selain konfirmasi melalui saluran bantuan pengguna. Banyak pihak menilai langkah ini diambil untuk memperketat keamanan dan mencegah praktik manipulasi lisensi, namun dampaknya justru dirasa merugikan konsumen jujur yang mungkin memiliki keterbatasan akses internet stabil.
Keheningan Sony di tengah riuhnya kritik komunitas diprediksi akan menjadi bumerang bagi citra merek PlayStation. Bagi para gamer, situasi ini menjadi pengingat penting bahwa di era serba digital, akses terhadap game kesayangan kita ternyata sangat bergantung pada kebijakan sepihak pemegang platform.

