Kabar mengenai konsol generasi berikutnya, PlayStation 6 (PS6), kembali memanaskan forum diskusi gamer global. Setelah berbagai spekulasi beredar sejak awal tahun lalu, bocoran terbaru dari insider industri kini menyoroti sektor dapur pacu, khususnya pada unit pemrosesan grafis (GPU).
Banyak penggemar yang berharap Sony akan habis-habisan menggunakan arsitektur GPU RDNA 5 secara utuh untuk performa maksimal. Namun, realitanya mungkin tidak seindah bayangan tersebut demi menjaga harga jual tetap “masuk akal”.
Strategi Arsitektur Campuran

Seorang leaker kredibel bernama KeplerL2 mengungkapkan dalam diskusi di forum NeoGAF bahwa Sony kemungkinan besar tidak akan menggunakan fitur RDNA 5 secara penuh. Alih-alih satu arsitektur tunggal, Sony diprediksi akan kembali menerapkan strategi arsitektur campuran (mixed architecture), mirip dengan pendekatan yang mereka lakukan pada PS5 saat ini.
Langkah ini dinilai sebagai taktik Sony untuk menekan biaya produksi. Mengingat rumor bahwa konsol Xbox generasi berikutnya bisa dibanderol di atas $1000 (sekitar Rp15 juta lebih), Sony tentu ingin PS6 tetap kompetitif dan terjangkau bagi dompet gamer kebanyakan.
Tetap Gahar dengan Zen 6 & GDDR7

Meski GPU-nya mungkin merupakan “racikan” campuran, spesifikasi lainnya dikabarkan tetap monster. PS6 diprediksi akan ditenagai oleh CPU Zen 6 dan memori 30GB GDDR7 (dibangun dari chip 3GB).
Memori ini berjalan pada bus 160-bit yang mampu menghasilkan bandwidth lebih dari 640GB per detik—sekitar 11% lebih kencang dibanding PS5 Pro. Tak hanya itu, rumor mengenai perangkat handheld PS6 juga mencuat dengan spesifikasi memori 24GB LPDDR5X.
Jadi, meskipun tidak menggunakan full RDNA 5, kombinasi CPU Zen 6 dan memori super cepat ini diyakini mampu menutupi kekurangannya.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju Sony sedikit “mengorbankan” arsitektur GPU demi harga yang lebih bersahabat, atau lebih memilih performa mentok kanan tanpa peduli harga?

