Console, Featured, Featured Review, News, PC

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Setelah sekitar dua dekade tidak mendapatkan game utama baru, Onimusha akhirnya kembali lewat Onimusha: Way of the Sword. Menariknya, Capcom tidak sekadar membawa kembali nama besar dari era PlayStation, tetapi mencoba membangun pengalaman action adventure yang terasa modern tanpa kehilangan identitas klasiknya.

Hasilnya adalah sebuah game yang berani fokus pada hal yang memang menjadi kekuatan utamanya: pertarungan pedang, duel melawan boss, karakter yang menarik, serta dunia Jepang dengan nuansa supernatural yang kental.

Bagi pemain baru, kabar baiknya adalah Onimusha: Way of the Sword tidak menuntut kita memahami seluruh game Onimusha sebelumnya. Ceritanya dibangun sebagai petualangan baru sehingga pemain bisa langsung masuk tanpa harus mempelajari lore panjang dari seri terdahulu.

Nah kebetulan JagoGame.id mendapatkan kesempatan istimewa dari Capcom untuk menjajal langsung game tersebut. Setelah memainkannya selama lebih dari 10 jam, berikut rangkuman ulasan yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan kamu sebelum membeli game ini. Yuk simak sama-sama berikut ini gaes!

Miyamoto Musashi Bukan Protagonis Samurai Biasa

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Kali ini pemain berperan sebagai Miyamoto Musashi, pendekar pedang yang pada akhirnya menggunakan Oni Gauntlet ketika Kyoto mulai dikuasai oleh para Genma.

Musashi menjadi salah satu elemen paling menarik dari game ini karena Capcom tidak menggambarkannya sebagai sosok samurai yang selalu serius dan memiliki tujuan mulia sejak awal.

Motivasi dasarnya justru sangat sederhana: ia suka bertarung. Ketika dunia mulai dipenuhi iblis dan orang-orang di sekitarnya ketakutan, Musashi justru lebih tertarik mengetahui apakah musuh yang muncul cukup kuat untuk memberikan pertarungan menarik.

Karakter tersebut membuatnya memiliki kepribadian yang lebih terasa dibandingkan protagonis action RPG yang hanya sekadar mengikuti misi utama. Seiring perjalanan, Musashi juga mulai menunjukkan perkembangan dan perlahan menjadi karakter yang lebih dari sekadar pendekar haus pertarungan.

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Hal yang membuat sosok Musashi semakin menarik adalah keputusan Capcom untuk menjadikan Toshiro Mifune, aktor legendaris Jepang yang dikenal lewat berbagai film samurai klasik, sebagai referensi utama untuk penampilan karakternya. Keluarga Mifune juga terlibat dalam proses persetujuan selama pengembangan game, sehingga penggunaan wajah dan karakteristik sang aktor tidak sekadar menjadi inspirasi visual.

Tim developer game ini bahkan mempelajari berbagai film yang dibintangi Mifune serta produksi bertema samurai lainnya untuk membantu menciptakan gerakan dan pertarungan yang terasa lebih realistis. Pengaruh tersebut dapat terlihat dari gestur, ekspresi wajah, hingga cara Musashi membawa dirinya ketika berhadapan dengan lawan.

Hasilnya, Musashi tidak hanya terlihat sangat mirip dengan Toshiro Mifune, tetapi juga memiliki aura pendekar dari film samurai klasik yang terasa kuat. Detail animasi wajahnya juga tampil sangat meyakinkan, terutama dalam berbagai cutscene.

Tidak hanya Musashi, karakter pendukung juga punya peran penting. Sejumlah nama yang muncul mengambil inspirasi dari sejarah, mitologi, dan folklor Jepang, seperti Ono no Takamura, Izumo no Okuni, hingga Murasaki Shikibu.

Menariknya, elemen sejarah dan mitologi tersebut tidak terasa sekadar ditempel. Banyak karakter dan bahkan boss memiliki latar belakang yang terhubung dengan lore Jepang.

Game ini juga cukup pintar menyeimbangkan atmosfer gelap dengan momen humor. Komedinya tidak terasa tiba-tiba muncul dan merusak suasana, melainkan menyatu dengan kepribadian para karakter.

Combat Jadi Bintang Utama

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Bagian terbaik Onimusha: Way of the Sword jelas berada pada sistem pertarungannya. Sekilas, mekanismenya mungkin akan mengingatkan pada Sekiro karena terdapat blocking, dodging, deflecting, posture, serta serangan yang sangat bergantung pada timing.

Namun, menyebut game ini sekadar “Sekiro versi Onimusha” terasa kurang tepat. Combat-nya lebih seperti perpaduan DNA Onimusha klasik dengan character action modern ala Capcom, kemudian diberikan sedikit elemen pertarungan berbasis parry.

Musuh juga terkadang terlihat lebih pasif dan menunggu giliran menyerang. Tetapi pendekatan tersebut tampaknya memang menjadi bagian dari desain pertarungan yang ingin memberikan sensasi duel ala film samurai klasik. Pemain tidak bisa sekadar masuk ke arena lalu melakukan spam light attack.

Musashi harus membaca pergerakan lawan, mempelajari pola serangan, melakukan deflect, menghindar, menghancurkan posture, kemudian menyerang pada saat yang tepat. Pada awal permainan, timing ini bisa terasa sulit. Kamu mungkin akan berkali-kali gagal melakukan parry dan langsung menerima damage besar.

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Namun, begitu mulai mengenali animasi serta tempo serangan musuh, combat-nya terasa sangat memuaskan.

Melakukan beberapa parry secara beruntun, mendapatkan perfect parry, masuk ke Blaze Mode, kemudian menghancurkan pertahanan lawan menghasilkan flow pertarungan yang sangat satisfying.

Sistemnya juga memungkinkan pemain memilih titik tertentu setelah berhasil menghancurkan pertahanan musuh. Efeknya bisa berupa damage besar, menghancurkan anggota tubuh, merusak armor, atau membuka soul gauge agar Musashi dapat menyerap lebih banyak soul menggunakan Oni Gauntlet.

Sensasi benturan pedangnya sendiri juga menjadi detail kecil yang membuat pertarungan semakin nikmat. Efek suara ketika dua senjata beradu setelah perfect parry dalam game ini juga memberi feedback yang terasa kuat.

Boss Fight Terasa Seperti Duel

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Jika combat menjadi fondasi utama, boss fight adalah tempat semua mekanisme tersebut benar-benar bersinar.

Boss di Onimusha: Way of the Sword tidak terasa seperti musuh dengan health bar raksasa yang hanya meminta pemain menyerang terus-menerus selama beberapa menit. Setiap pertempuran lebih menyerupai duel.

Ada ritme yang harus dipelajari: kapan waktunya menyerang, kapan mundur, kapan melakukan deflect, dan bagaimana memanfaatkan kelemahan lawan. Beberapa boss bisa memberikan kekalahan berulang kali. Tetapi setiap percobaan membuat pemain semakin memahami apa yang dilakukan secara salah.

Ketika akhirnya seluruh pola berhasil dipahami dan kita mampu mengontrol jalannya pertarungan, kemenangan terasa benar-benar pantas didapatkan. Desain boss juga memiliki hubungan dengan cerita. Mereka memiliki alasan mengapa berada di tempat tersebut, motivasi, serta lore yang membantu memberikan konteks terhadap pertarungan.

Ditambah cutscene yang tampil ciamik, pertarungan boss menjadi salah satu highlight terbesar sepanjang game ini.

Tidak Memaksakan Dunia Open World

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Keputusan menarik lainnya adalah Capcom tidak mengubah Onimusha menjadi game open world raksasa. Alih-alih menghadirkan peta besar berisi ratusan aktivitas, Way of the Sword lebih memilih struktur action adventure dengan area luas yang dapat dieksplorasi.

Pemain masih bisa menemukan side content, rahasia, serta kembali mengunjungi beberapa lokasi. Namun, semuanya terasa lebih terarah. Pendekatan tersebut memungkinkan Capcom membuat lingkungan yang lebih mudah diingat.

Sepanjang perjalanan, kita akan mengunjungi kuil, hutan, kastel, hingga berbagai bagian Kyoto yang telah terkontaminasi kekuatan iblis.

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Game ini sendiri dikembangkan menggunakan RE Engine, dan hasil visualnya menjadi salah satu daya tarik utama. Lingkungannya mampu memperlihatkan Kyoto yang indah sekaligus menyeramkan ketika mulai dipenuhi pengaruh Genma.

Sistem Upgrade Sederhana tetapi Efektif

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Sistem soul klasik kembali melalui Oni Gauntlet. Soul yang didapatkan dari musuh dapat digunakan untuk membantu healing, membuka kemampuan, serta meningkatkan progres karakter.

Menariknya, game terus memperkenalkan interaksi dan mekanisme combat baru selama perjalanan. Bahkan setelah bermain dalam waktu lama, masih ada kemungkinan menemukan trik pertarungan yang sebelumnya tidak disadari. Sayangnya, pada bagian awal game, tutorial terkadang terasa terlalu banyak menjelaskan. Game seolah terlalu sering memastikan pemain memahami setiap fitur sebelum akhirnya memberikan kebebasan penuh.

Skill tree-nya sendiri relatif sederhana. Pemain tidak perlu membuat puluhan build berbeda atau mengumpulkan banyak jenis senjata dan armor. Musashi menggunakan satu pedang utama yang dapat ditingkatkan bersama armor dan Oni Gauntlet.

Fokusnya bukan mencari kombinasi build paling overpowered, melainkan membuat pemain semakin mahir menggunakan mekanisme pertarungan yang tersedia.

Ada Repetisi yang Mulai Terasa

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Meski banyak hal berhasil dilakukan dengan sangat baik, Onimusha: Way of the Sword bukan tanpa kekurangan. Masalah paling terasa adalah repetisi. Beberapa area besar terlalu sering mengandalkan arena pertarungan dan pertemuan dengan musuh yang konsepnya mirip.

Variasi musuh juga tergolong terbatas. Memang akan ada musuh baru seiring perkembangan cerita dan mereka mulai mendapatkan serangan serta kemampuan berbeda, tetapi setelah bermain dalam waktu panjang, pola pertemuannya tetap bisa terasa repetitif.

Sebagian aktivitas sampingan juga ada yang tidak selalu menarik. Ada side content yang berhasil memanfaatkan mitologi Jepang dengan sangat baik, tetapi ada pula aktivitas yang terasa hanya seperti collectible biasa.

Tingkat kesulitannya juga terkadang terasa tidak konsisten. Dalam satu bagian pemain bisa menghancurkan musuh dengan mudah, tetapi beberapa menit kemudian tiba-tiba bertemu lawan yang jauh lebih berbahaya.

Bagi kamu pemain yang menyukai tantangan, perubahan semacam ini justru menarik. Namun, tidak semua orang mungkin menikmati lonjakan kesulitan tersebut.

Kesimpulan

[REVIEW] Onimusha: Way of the Sword, Kebangkitan yang Layak Ditunggu 20 Tahun

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Onimusha: Way of the Sword berhasil memahami apa yang membuat game action terasa menyenangkan. Tidak ada dunia raksasa yang dipenuhi checklist, tidak ada campaign yang sengaja diperpanjang, dan tidak ada sistem progresi berlebihan yang mengalihkan perhatian dari mekanisme utamanya.

Game ini tahu bahwa kekuatan terbesarnya adalah combat, lalu membangun hampir seluruh pengalaman di sekitarnya. Pertarungan pedangnya sangat satisfying, boss fight terasa seperti duel sungguhan, Miyamoto Musashi menjadi protagonis yang menyenangkan untuk diikuti, dan dunianya berhasil menghadirkan Kyoto penuh iblis dengan visual yang memikat.

Cerita serta perkembangan karakternya juga memberikan kejutan lebih besar dari yang mungkin diharapkan dari sebuah game yang pada awalnya terlihat sangat berfokus pada action.

Repetisi, variasi musuh yang terbatas, dan beberapa side activity yang biasa saja memang menjadi catatan. Namun, kekurangan tersebut tidak sampai menghilangkan keinginan untuk terus mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya.

Untuk penggemar action game yang menyukai pertarungan berbasis timing dan parry tetapi tetap menginginkan gaya action khas Capcom, Onimusha: Way of the Sword sangat layak untuk kamu coba!

Dan bagi mereka yang sudah menunggu Onimusha kembali selama sekitar 20 tahun, game ini terasa seperti sebuah kepulangan yang sudah lama dinantikan.

Gimana, jadi penasaran tentang petualangan Musashi di Onimusha: Way of the Sword? Saat ini game tersebut telah tersedia di konsol dan PC, untuk PC bisa kamu dapatkan di Steam dengan harga Rp910.000 untuk versi standard.

Kategori PenilaianSkorCatatan Utama
Grafis & Visual9.5/10RE Engine menghadirkan Kyoto yang gelap, rusak, dan dipenuhi Genma dengan detail lingkungan serta ekspresi karakter yang sangat kuat.
Gameplay & Combat10/10Sistem parry, deflect, dodge, posture, Blaze Mode, dan Oni Gauntlet menghasilkan duel pedang yang responsif, menantang, sekaligus sangat memuaskan.
Cerita & Karakter9.5/10Miyamoto Musashi tampil karismatik dengan inspirasi Toshiro Mifune, didukung karakter dari sejarah dan mitologi Jepang serta perkembangan cerita yang menarik.
Boss Fight & Tantangan10/10Pertarungan boss terasa seperti duel sungguhan dengan pola serangan, timing, kelemahan, serta lore yang membuat setiap pertarungan terasa penting.
Eksplorasi & Progression9.0/10Struktur semi-linear terasa fokus dengan area eksplorasi, rahasia, dan upgrade sederhana, meski variasi musuh serta beberapa aktivitas mulai repetitif.
Value for Money10/10Pengalaman action adventure yang fokus, combat berkualitas tinggi, boss fight memorable, serta minim filler membuatnya sangat layak untuk penggemar genre action.
TOTAL SKOR9.5/10AWESOME!