Kabar duka kembali menyelimuti industri video game global. Hideki Sato, sosok visioner yang menjadi otak di balik perancangan deretan konsol legendaris SEGA, dilaporkan meninggal dunia pada usia 77 tahun, Jumat (13/2/2026) lalu.
Kabar kepergiannya pertama kali dikonfirmasi oleh media game Jepang, Beep21, pada Senin (16/2/2026). Kepergian Sato menandai akhir dari sebuah era bagi para gamer Generasi X dan Milenial yang masa kecilnya ditemani oleh bunyi booting ikonik konsol Sega.
Arsitek di Balik Kejayaan Sega

Bergabung dengan Sega sejak tahun 1971, Hideki Sato bukan sekadar eksekutif biasa. Ia adalah insinyur jenius yang menjadi tulang punggung inovasi perangkat keras (hardware) perusahaan selama lebih dari tiga dekade.
Tanpa sentuhan tangannya, kita mungkin tidak akan pernah mengenal SG-1000, Sega Genesis (Mega Drive) yang ikonik, Sega Saturn, hingga konsol terakhir yang begitu dicintai namun berumur pendek, Dreamcast. Karya-karyanya tidak hanya mendefinisikan persaingan “Perang Konsol” di era 90-an, tetapi juga membentuk standar teknologi hiburan rumah pada masanya.
Memimpin di Masa Transisi Kritis

Dedikasi Sato terus berlanjut hingga ia menjabat sebagai Presiden Sega pada periode 2001–2003. Ini adalah masa-masa paling krusial dan emosional bagi perusahaan, di mana Sega harus mengambil keputusan berat untuk berhenti memproduksi konsol dan beralih fokus menjadi pengembang perangkat lunak (software) pihak ketiga.
Kepergian Sato menambah daftar panjang duka bagi keluarga besar Sega, menyusul wafatnya sang pendiri, David Rosen, pada Desember 2025 lalu.
Redaksi Beep21 memberikan penghormatan terakhir yang menyentuh: “Beliau adalah sosok hebat yang membentuk sejarah gim Jepang… Kegembiraan serta semangat kepeloporan dari era tersebut akan tetap abadi di hati dan ingatan para penggemar selamanya.”
Selamat jalan, Hideki Sato. Terima kasih telah mewarnai masa kecil kami dengan teknologi dan kenangan yang tak terlupakan. Rest in Peace, Legend.

