Siapa bilang zombie selalu menjadi ancaman paling menakutkan dalam sebuah game? Stupid Never Dies justru membalik gagasan tersebut melalui Davy, mayat hidup yang berada di kasta terbawah dunia monster. Action RPG buatan GPTRACK50 ini mencoba menggabungkan pertarungan cepat, humor absurd, dan progres roguelike dalam petualangan yang penuh keganjilan. Hasilnya menawarkan beberapa ide segar, meskipun tidak semua berhasil mempertahankan keseruan hingga akhir.
Stupid Never Dies merupakan proyek studio Jepang yang melibatkan pengembang berpengalaman dari seri Devil May Cry, Dragon’s Dogma, dan Resident Evil. Game ini dijadwalkan meluncur pada 21 Oktober 2026 untuk PC melalui Steam dan PlayStation 5, dengan perbedaan tanggal menurut wilayah. Alih-alih mengikuti formula horor zombie, developer memilih pendekatan penuh warna yang lebih dekat dengan komedi aksi.
Nah kebetulan JagoGame.id mendapatkan kesempatan dari SEGA untuk merasakan game besutan GPTRACK50 ini. Setelah memainkan kurang lebih selama 10 jam, berikut ulasan singkat mengenai game tersebut yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan kamu sebelum membeli. Apakah menarik dan patut dibeli? Yuk simak ulasannya berikut ini gaes!
Kisah Zombie Davy dengan Humor yang Serba Absurd
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-1.jpg)
Kisahnya berlangsung setelah dunia dikuasai monster. Di tengah lingkungan yang kacau, zombie ternyata bukan penguasa, melainkan makhluk yang dianggap paling lemah. Davy menjadi gambaran sempurna dari kondisi tersebut: gerakannya lambat, kemampuannya terbatas, dan nyaris tidak ada yang menganggapnya berbahaya. Namun, sebuah perasaan romantis mendorongnya melakukan sesuatu yang jauh melampaui kapasitas awalnya.
Davy jatuh cinta kepada Julia, perempuan manusia yang berada dalam kondisi membeku. Ia bertekad membangkitkannya meski hubungan mereka belum benar-benar terbangun. Bersama seorang ilmuwan eksentrik, Davy kemudian menjelajahi dungeon untuk mengalahkan penguasa monster. Premis ini sengaja dibuat konyol, tetapi keanehan cerita tidak otomatis menjadikannya lebih lucu.
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-2.jpg)
Berdasarkan ulasan gameplay yang dipaparkan kanal I Dream of Indie Games, humor Stupid Never Dies terkadang terasa terlalu memaksakan diri. Ada percakapan dan situasi yang mengundang senyum, tetapi sejumlah lelucon seperti berusaha keras menunjukkan betapa nyelenehnya dunia tersebut. Kepribadian karakternya cukup menarik, sementara penulisannya belum selalu memiliki ketajaman yang sama.
Gameplay Stupid Never Dies: Combat Cepat dan Transformasi Monster
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-3.jpg)
Di balik lapisan komedinya, fondasi gameplay relatif mudah dipahami. Pemain memasuki dungeon, menghadapi gelombang musuh dalam arena, berpindah melalui jalur yang umumnya linear, lalu berhadapan dengan boss. Ketika gagal, perjalanan dimulai kembali dengan sejumlah perkembangan yang telah diperoleh. Siklus semacam ini akrab bagi penggemar roguelike, sehingga Stupid Never Dies perlu mengandalkan mekanik tambahan agar tampil berbeda.
Mekanik terpentingnya adalah Style Eat. Davy dapat menggigit atau melahap musuh untuk memulihkan HP maupun mengambil kekuatan mereka. Transformasi memungkinkan karakter berubah menjadi monster lain, termasuk werewolf dan harpy. Setiap wujud membawa serangan serta kemampuan berbeda, menciptakan variasi yang tidak tersedia ketika pemain hanya mengandalkan tubuh zombie biasa.
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-4.jpg)
Perubahan bentuk tersebut bukan sekadar kosmetik. Musuh yang terbang, misalnya, lebih merepotkan ketika dihadapi menggunakan serangan dasar Davy. Menggunakan wujud dengan kemampuan yang sesuai membuat pertarungan terasa lebih praktis. Di sinilah ide Stupid Never Dies paling terlihat potensinya: memilih kekuatan monster berdasarkan ancaman, kemudian berganti pendekatan ketika situasi berubah.
Sayangnya, kualitas combat tidak selalu mengikuti kreativitas sistem transformasi. Banyak pertempuran masih mengandalkan kombinasi tombol serangan secara berulang, sementara arena tidak menawarkan banyak alasan untuk bereksplorasi. Gerakan dan kemampuan baru memang membuat aksi lebih berwarna, tetapi pola menghadapi gelombang musuh berpotensi terasa monoton setelah dimainkan cukup lama.
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-5.jpg)
Ada pula mekanik bernama Stupid Parry untuk menghukum serangan lawan melalui timing yang tepat. Sistem ini menambah unsur penguasaan kontrol, terutama ketika pemain harus membaca gerakan musuh. Namun, serangan berwarna merah tidak dapat ditangkis menggunakan kemampuan tersebut. Pemain perlu mengenali tanda serangan dan memilih menghindar daripada memaksakan parry dalam setiap situasi.
Sistem Roguelike yang Membuat Setiap Keputusan Berarti
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-6.jpg)
Tantangan lainnya datang dari Tick-Tock Teddy, penghitung waktu yang terus berjalan selama penjelajahan dungeon. Pemain dapat memperoleh tambahan waktu melalui item tertentu, tetapi tekanan tetap terasa. Menariknya, beberapa persimpangan memungkinkan Davy melewati sejumlah layer sekaligus. Jalan pintas membantu menghemat waktu, namun berarti kehilangan kesempatan mengumpulkan level yang mungkin diperlukan sebelum menghadapi boss.
Pilihan itu memberi lapisan strategi yang cukup efektif. Mengambil rute pendek tidak selalu lebih aman, sementara menjelajahi semua area juga berisiko menghabiskan waktu. Pemain harus mempertimbangkan kemampuan karakter saat itu, kekuatan musuh berikutnya, dan kebutuhan meningkatkan statistik. Sistem tersebut membuat keputusan sederhana mengenai jalur terasa lebih berarti daripada tampilan dunianya sendiri.
Progres karakter juga dirancang agar kegagalan tidak terlalu menyiksa. Setelah mengulang dungeon, Davy bisa meningkatkan level dengan lebih cepat dibandingkan perjalanan sebelumnya. Setiap beberapa kenaikan level, tersedia pilihan perk untuk memperbesar serangan, HP, atau pertahanan. Zona aman di tengah petualangan memberi kesempatan membeli pemulihan dan peningkatan lain sebelum melanjutkan pertarungan.
Body Hack dan Beragam Aktivitas Unik di Pusat Perbelanjaan
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-7.jpg)
Ketika kembali ke hub, pemain menemukan pusat perbelanjaan terbengkalai yang justru dipenuhi berbagai aktivitas. Davy bergerak sangat lambat dalam kondisi normal, sehingga ia menggunakan perangkat menyerupai robot penyedot debu untuk menjelajahi area tersebut. Detail aneh ini menggambarkan selera humor developer sekaligus membantu mengurangi waktu berjalan di antara fasilitas yang tersedia.
Fitur Body Hack menjadi salah satu alasan penting untuk kembali ke pusat perbelanjaan. Bagian tubuh yang ditemukan selama dungeon dapat dipasang untuk mengubah kemampuan Davy. Seiring progres, karakter baru dan toko tambahan mulai terbuka. Ada makanan, aktivitas sampingan, serta kesempatan menemukan data ponsel Julia yang menambahkan sedikit konteks pada kisah hubungan mereka.
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-11.jpg)
Berbagai aktivitas ekstra memberikan tujuan di luar mengalahkan boss. Salah satu karakter badut menawarkan tantangan khusus untuk diselesaikan pada setiap run, sedangkan item tertentu membuka pilihan baru untuk Tick-Tock Teddy. Konten semacam ini dapat memperpanjang waktu bermain menuju puluhan jam bagi pemain yang ingin menuntaskan semuanya, walaupun sebagian terasa seperti pengisi durasi.
Visual, Musik, dan Performa Stupid Never Dies di PC
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-9.jpg)
Dari sisi presentasi, Stupid Never Dies memiliki karakter visual yang cukup menonjol. Desain Davy dan sejumlah tokoh pendukung terasa unik, didukung antarmuka berwarna cerah serta sentuhan grafis bergaya komik. Cutscene merupakan salah satu kekuatan visualnya karena menggabungkan beberapa pendekatan seni sehingga tampil lebih ekspresif dibandingkan arena permainan biasa.
Sayangnya, kualitas lingkungan kurang konsisten dengan desain karakternya. Ruang dungeon terlihat relatif hambar dan sering terasa serupa, bahkan ketika pemain sebenarnya sudah melangkah lebih jauh. Desain monster juga tidak semuanya memiliki daya tarik yang sama. Bagi genre yang mendorong pengulangan, variasi pemandangan menjadi penting supaya proses mencoba lagi tidak terasa terlalu mekanis.
Musiknya memberi energi yang dibutuhkan presentasi tersebut. Dominasi riff gitar dan nuansa alternative rock era 1990-an cocok dengan gerakan agresif serta gaya visual game. Namun, beberapa bagian terdengar terlalu dekat dengan lagu rock yang sudah dikenal. Voice acting cukup mendukung karakter, walaupun dialog antarzombie yang lambat terkadang membuat alur percakapan kehilangan momentum.
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-12.jpg)
Soal tingkat kesulitan, pengalaman pengulas menunjukkan bahwa Stupid Never Dies bukan action RPG yang terlalu menghukum pemain. Sejumlah arena dapat dilewati tanpa hambatan besar, bahkan tersedia opsi yang membuat karakter jauh lebih kuat bagi mereka yang ingin berfokus pada cerita. Pilihan itu meningkatkan aksesibilitas, meskipun penempatan menunya dinilai kurang mudah ditemukan.
Untuk performa PC, JagoGame.id memainkan game ini dengan menggunakan GeForce RTX 3060 Ti Pada resolusi 1080p, permainan berjalan nyaman. Ketika dinaikkan ke 1440p, pengulas perlu menurunkan preset grafis dari Very High menjadi High untuk memperoleh hasil lebih stabil, meskipun masih sesekali muncul gangguan kecil. Tidak ada crash besar yang dilaporkan dalam sesi tersebut.
Hasil itu tentu bukan jaminan performa untuk semua perangkat. Kombinasi CPU, driver, pilihan resolusi, dan pengaturan visual dapat menghasilkan pengalaman berbeda. Namun, ketersediaan sejumlah opsi grafis setidaknya memberi ruang penyesuaian bagi pemain PC yang ingin mencari kompromi antara kualitas gambar dan kestabilan permainan.
Kesimpulan
![[REVIEW] Stupid Never Dies: Seru di Awal, Namun Cepat Membosankan?](https://jagogame.id/wp-content/uploads/2026/10/REVIEW-Stupid-Never-Dies-Seru-di-Awal-Namun-Cepat-Membosankan-10.jpg)
Masalah terbesar Stupid Never Dies pada akhirnya bukan kurangnya gagasan. Transformasi monster, Body Hack, dan sistem perkembangan yang mempercepat level setelah gagal merupakan fondasi menarik. Sayangnya, seluruh kreativitas itu dibungkus dungeon yang terlalu linear dan pertarungan yang cepat memperlihatkan pola berulang. Dalam ulasan sumber, rasa antusias mulai berkurang setelah sekitar enam jam, meskipun masih ada konten cerita dan aktivitas lain.
Karena itu, Stupid Never Dies terasa seperti game yang lebih mudah disukai melalui konsep daripada keseluruhan eksekusinya. Penggemar action RPG ringan mungkin tetap menikmati humor aneh, perubahan bentuk monster, dan progres yang ramah pemain. Sebaliknya, pencari combat mendalam serta eksplorasi beragam kemungkinan akan lebih cepat merasakan keterbatasannya. Ini petualangan zombie yang punya identitas, tetapi belum sepenuhnya sanggup memaksimalkan semua idenya. Bagi sebagian pemain, daya tariknya mungkin bertahan lebih lama.
| Kategori Penilaian | Skor | Catatan Utama |
|---|---|---|
| Grafis & Visual | 6.5/10 | Desain karakter unik dan cutscene artistik menjadi daya tarik. Namun, lingkungan dungeon terlihat monoton dengan variasi visual terbatas. |
| Gameplay & Combat | 7.0/10 | Mekanik Style Eat, transformasi monster, dan Stupid Parry membuat pertarungan menghibur. Sayangnya, combat terlalu mengandalkan button mashing. |
| Roguelike & Progression | 7.0/10 | Sistem perk, Body Hack, dan peningkatan level setelah kegagalan menghadirkan progres yang menyenangkan tanpa grinding berlebihan. |
| Desain Level & Eksplorasi | 5.5/10 | Dungeon terlalu linear dengan arena yang berulang dan minim eksplorasi, sehingga petualangan cepat terasa membosankan. |
| Cerita & Humor | 6.0/10 | Kisah cinta zombie dengan manusia yang membeku menawarkan premis absurd, tetapi beberapa lelucon terasa dipaksakan. |
| Musik & Voice Acting | 7.0/10 | Soundtrack alternative rock cocok dengan atmosfer permainan. Voice acting cukup baik, meskipun beberapa dialog terasa lambat. |
| Performa & Optimasi | 7.0/10 | Performa cukup stabil pada RTX 3060 Ti di 1080p. Resolusi 1440p membutuhkan penyesuaian pengaturan untuk pengalaman lebih nyaman. |
| Replay Value | 6.0/10 | Transformasi, tantangan tambahan, dan sistem progres memberikan alasan untuk bermain ulang. Namun, gameplay repetitif mengurangi daya tarik jangka panjang. |
| TOTAL SKOR | 6.5/10 | FUN BUT REPETITIVE! Konsep zombie yang kreatif dan combat cukup seru, tetapi dungeon monoton membatasi potensinya. |

