[REVIEW] Sand Land, Karya Akira Toriyama yang Kini Bisa Kamu Mainkan!

Mengubah manga menjadi video game merupakan sebuah perjalanan penuh tantangan, khususnya dalam mempertahankan inti asli karya sembari menambahkan inovasi gameplay yang menarik dan sesuai. “Sand Land,” yang diilhami oleh manga Akira Toriyama, adalah langkah berani dalam mengeksplorasi genre open-world. Game ini menawarkan petualangan menegangkan yang memanfaatkan kebebasan eksplorasi yang luas, namun juga membawa beban untuk memuaskan harapan penggemar yang telah lama mengagumi karya aslinya.

Keberanian ini terlihat bukan hanya dari keinginan untuk mengembangkan narasi yang sudah ada, tetapi juga dari upaya mengintegrasikan estetika khas dengan dinamika permainan yang menjaga keistimewaan naratif Toriyama. Sand Land tidak hanya menawarkan replika; ia berupaya menambahkan sentuhan baru yang memperkaya pengalaman yang sudah ada, menjembatani kesetiaan pada sumber asli dengan kebebasan kreatif yang memungkinkan pemain untuk merasakan dunia Toriyama dengan cara yang sepenuhnya baru.

Sebagai kebetulan, penulis mendapat kesempatan dari Bandai Namco untuk mereview Sand Land, setelah bermain sekitar 10 jam, inilah beberapa pendapat penulis yang mungkin berguna sebelum kamu memutuskan untuk membelinya. Mari kita ulas bersama-sama!

Alur Cerita yang Perlu Lebih Berani

Sand Land membawa pemain ke dunia pasca-apokaliptik yang penuh ketidakadilan, menelusuri koeksistensi rumit antara setan dan manusia yang bersatu melawan pemerintahan korup. Kisah ini terpusat pada Prince Beelzebub, pangeran setan dengan pesona dan kepemimpinan yang kokoh, menjadikannya simbol perlawanan terhadap tirani. Dia tidak hanya berperan penting dalam konflik ini tetapi juga menunjukkan transformasi internal yang signifikan, berjuang antara naluri setannya dan keinginan untuk membawa perubahan yang baik.

Selain itu, ada karakter Rao, veteran perang yang terbebani oleh masa lalunya, dan Thief, seorang ajudan Prince Beelzebub dalam petualangannya. Juga ada Ann, mekanik wanita jenial dengan pengetahuan mendalam tentang teknologi kendaraan yang digunakan pemain sepanjang permainan.

Mereka tidak hanya merupakan tim, tetapi juga simbol berbagai aspek kemanusiaan dan penebusan kesalahan mereka. Namun, sering kali dialog dan pengembangan cerita cenderung klise, yang kurang memberikan dampak emosional yang seharusnya menarik dan mendalam. Kisah Sand Land sebenarnya penuh dengan momen yang bisa menarik emosi, namun sepanjang perjalanan, penulis merasa ada banyak potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, terutama dalam mengeksplorasi konflik internal karakter atau konsekuensi dari perjuangan mereka yang seharusnya lebih mendebarkan.

Meskipun demikian, Sand Land berusaha menawarkan narasi yang cukup kompleks dan berlapis, di mana perjuangan dan pertumbuhan karakter disajikan melalui cerita yang kaya dan penuh aksi. Pemain diajak bukan hanya terlibat dalam aksi brutal dari konflik yang ditampilkan, tetapi juga harapan dan kekuatan dari aliansi yang tak terduga, mencerminkan potensi untuk pemulihan dan perubahan dalam dunia yang penuh kekacauan.

Jadi, dapatkah Prince Beelzebub mengalahkan kekuatan tirani dan menghentikan kekacauan? Temukan jawabannya dengan memainkan Sand Land!

Gameplay Menyenangkan dan Menantang

Sand Land menawarkan perjalanan menarik ke dunia terbuka yang luas dan dinamis, di mana eksplorasi dan pertarungan menggunakan kendaraan menjadi inti dari pengalaman bermain. Game ini dilengkapi dengan sistem kendaraan yang inovatif dan kompleks yang memungkinkan pemain untuk memanggil dan mengganti antara lima jenis kendaraan berbeda sesuai kebutuhan situasi yang dihadapi. Dari Tank Old Reliable yang tangguh untuk pertarungan skala besar, Jump Bots yang lincah untuk navigasi di ruang sempit, hingga Mech khusus untuk serangan jarak dekat maupun jauh, setiap kendaraan menawarkan keunikan yang meningkatkan kedalaman strategi dalam pertarungan.

Diperkirakan memerlukan waktu kurang lebih hingga 25 jam untuk menyelesaikannya, Sand Land membawa pemain melewati berbagai lingkungan mulai dari padang pasir yang terik hingga hutan lebat yang penuh misteri. Lingkungan tersebut tidak hanya menawarkan pemandangan yang memanjakan mata tetapi juga menyediakan berbagai tantangan dan skenario gameplay yang beragam. Meskipun demikian, meski kaya akan visual dan variasi lingkungan, gameplay kadang-kadang terjebak dalam pola yang repetitif.

Misi dan tantangan yang berfokus pada kendaraan sering kali tidak sepenuhnya memanfaatkan potensi dari dunia game yang luas dan penuh variasi, yang bisa mengurangi kedalaman dan kekayaan pengalaman yang seharusnya lebih dinamis dan menggugah. Kritik ini menunjukkan bahwa sementara Sand Land memiliki fondasi gameplay yang solid, masih terdapat ruang untuk peningkatan dalam pemanfaatan elemen-elemennya secara lebih efektif untuk menghindari kesan monoton.

Visual dan Performa

Sand Land menonjolkan kekuatan visual yang mengagumkan dalam mengadaptasi gaya seni ikonik Akira Toriyama ke dalam format 3D. Game ini berhasil menerjemahkan desain karakter yang khas dan kendaraan imajinatif yang sering terlihat dalam karya Toriyama, dengan detail dan tekstur yang memikat. Sekuen kendaraan, yang merupakan inti dari gameplay, menunjukkan dinamika dan kecepatan yang mengesankan, sementara adegan potong mencerminkan nuansa dan emosi dari manga aslinya, memberikan kedalaman visual yang memperkuat narasi.

Namun, walaupun ada keberhasilan dalam aspek visual tersebut, presentasi keseluruhan game ini kadang-kadang mengecewakan. Bagian cut-scene sering kali terasa kaku, dengan animasi yang tidak mengalir secara alami, yang merusak imersi dalam momen-momen krusial cerita yang sedang dinikmati. Suara dari beberapa karakter juga tidak konsisten, ada beberapa karakter yang terdengar kurang meyakinkan, sehingga dapat mengurangi dari kesan otentik yang seharusnya bisa tersampaikan dengan baik. Walau ini sebenarnya kekurangan kecil, tapi tetap membuat pengalaman bermain kurang terasa mengalir, apalagi game ini mengadaptasi dari sebuah anime yang harusnya bisa lebih baik lagi.

Meski ada kelemahan, Sand Land tetap menyajikan beberapa momen visual yang menakjubkan yang benar-benar menarik pemain ke dalam dunianya yang luas dan penuh warna. Aspek-aspek ini, ketika berjalan dengan baik, berhasil menghidupkan dunia Toriyama dengan cara yang baru dan menarik, menunjukkan potensi yang ada dalam perpaduan antara seni tradisional dan teknologi modern. Namun, untuk mencapai konsistensi yang lebih tinggi dalam performa dan presentasi, diperlukan perhatian lebih detail dan peningkatan dalam teknik animasi dan voice acting.

Performa bermain Sand Land di PC

Penulis memainkan Sand Land versi Steam di perangkat PC dengan spesifikasi medium seperti i5-9400F, GeForce RTX 3060, dan RAM 16GB dan menggunakan media penyimpanan SSD 1 TB. Hasilnya, game ini terasa lancar tanpa ada kendala. Memainkan dengan resolusi 1920 x 1080 dengan semua pengaturan grafis High dan frame limit 120 FPS sudah sangat cukup memanjakan mata. Melihat bagaimana setiap karakter, lingkungan, hingga setiap efek yang ditampilkan sudah amat baik.

Penulis juga tidak menemukan bug yang mengganggu, sehingga dari kualitas grafis dan gameplay tidak ada keluhan sama sekali. Ini membuktikan bahwa Bandai Namco telah melakukan quality control yang amat baik sebelum mereka merilisnya.

Kustomisasi dan Interaksi

Sand Land memiliki elemen kustomisasi yang mendalam melalui sistem upgrade kendaraan yang canggih, memungkinkan pemain untuk menyesuaikan setiap aspek dari kendaraan mereka agar sesuai dengan berbagai skenario pertarungan. Kendaraan dapat dilengkapi dengan berbagai senjata, pelindung, dan modul khusus yang tidak hanya meningkatkan kinerja mereka tetapi juga secara visual mengubah tampilan mereka, memberikan kesan unik pada setiap pemain. Kustomisasi ini tidak hanya sebatas pada penampilan: penggantian mesin, pemasangan chip, dan penyesuaian kinerja akan mempengaruhi cara kendaraan beroperasi di medan pertarungan, memberikan pemain kendali penuh atas strategi dan gaya bermain mereka.

Selain itu, interaksi dalam game mencakup berbagai aktivitas yang memperkaya pengalaman pemain. Meskipun interaksi dasar dengan lingkungan dan karakter non-pemain cenderung sederhana, Sand Land kadang-kadang menambahkan elemen seperti teka-teki dan misi penyusupan yang memerlukan pemikiran dan strategi lebih dari sekadar kekuatan tempur. Elemen-elemen ini menambah kedalaman gameplay tetapi sering kali kurang konsisten dalam menarik minat pemain, yang mungkin menemukan bahwa beberapa bagian dari game ini kurang menantang atau terlalu mudah ditebak.

Namun, inovasi dalam kustomisasi kendaraan dan keberagaman tugas yang ada memberikan peluang bagi pemain untuk terlibat secara aktif dalam mengembangkan kemampuan mereka dan menguji keefektifan modifikasi yang mereka terapkan. Pembaruan dan pengembangan kendaraan berfungsi tidak hanya sebagai alat untuk kemajuan dalam cerita tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan pengalaman bermain secara keseluruhan, mendorong pemain untuk bereksperimen dengan berbagai kombinasi untuk mencari tahu apa yang paling efektif dalam situasi tertentu. Ini menciptakan lingkaran umpan balik yang memuaskan antara pemain, game, dan narasi yang bergerak maju.

Kesimpulan

Sand Land menghadirkan kontras yang menarik dalam dunia adaptasi video game, memadukan momen adaptasi yang brilian dengan periode yang cenderung monoton. Sementara game ini berhasil menangkap esensi dari karya Akira Toriyama dalam beberapa aspek, ia mengalami kesulitan untuk konsisten melakukannya sepanjang permainan. Fokus utama pada pertarungan kendaraan menjadi kekuatan sekaligus kelemahan, seringkali mengorbankan eksplorasi naratif yang lebih dalam dan interaksi karakter yang lebih kaya.

Secara keseluruhan, Sand Land merupakan usaha yang patut dihargai dalam menghidupkan manga tercinta dalam bentuk video game, namun masih meninggalkan keinginan bagi para penggemar untuk mendapatkan lebih banyak dari pengalaman yang ditawarkan. Permainan ini cukup solid namun tidak spektakuler, menangkap momen-momen yang membuat materi sumbernya spesial.

Dari segi teknis, walaupun terdapat beberapa kekurangan seperti AI musuh yang kurang variatif dan pertarungan bos yang monoton, sistem kendaraan menonjol sebagai fitur unggulan. Kemudahan dalam mengganti kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan situasi menambah dinamika dan keseruan dalam gameplay. Namun, aspek tempur tangan-ke-tangan sering kali terasa kurang mendalam dan cenderung repetitif.

Meskipun memiliki kekurangan, Sand Land tetap menawarkan pengalaman yang cukup memuaskan dengan mempertahankan beberapa elemen inti yang membuat manga aslinya begitu dicintai. Namun, repetisi dalam quest dan kurangnya tantangan kreatif dapat mengurangi daya tarik jangka panjangnya bagi beberapa pemain.

Bagi penggemar karya Toriyama dan penggemar genre ini, Sand Land masih layak dicoba, terutama untuk menikmati inovasi dalam mekanika kendaraan dan desain visual yang menarik. Namun, bagi mereka yang mencari pengalaman naratif yang lebih mendalam dan gameplay yang konsisten menantang, mungkin akan merasa bahwa “Sand Land” masih memiliki beberapa area yang perlu ditingkatkan.

Sand Land layak mendapatkan skor 8/10!