Bagi para penggemar ordo pembunuh bayaran, hari ini adalah momen yang sangat dinantikan. Ubisoft baru saja memberikan konfirmasi resmi terkait eksistensi Assassin’s Creed Black Flag Resynced. Namun, pengumuman ini membawa beban berat: kesuksesan petualangan bajak laut Edward Kenway versi remake ini bakal menjadi tolok ukur apakah judul-judul klasik lainnya akan mendapatkan perlakuan serupa atau tidak.
Fokus Total pada Single-Player

Berdasarkan laporan terbaru dari Insider Gaming, ada beberapa perubahan signifikan yang dilakukan Ubisoft pada versi Resynced ini. Demi memberikan kualitas visual dan mekanik yang maksimal pada cerita utama, Ubisoft memutuskan untuk menghapus mode multiplayer dan DLC Freedom Cry.
Keputusan ini diambil agar tim pengembang bisa fokus memperluas konten dasar dengan beberapa tambahan elemen baru yang belum ada di versi orisinalnya tahun 2013 lalu. Strategi ini tampaknya ditujukan untuk memuaskan milenial yang ingin bernostalgia dengan kualitas grafis modern, sekaligus menggaet Gen Z yang lebih menyukai pengalaman narasi yang imersif.
Gerbang untuk Remake Seri Klasik Lainnya
Ubisoft dikabarkan sedang memantau dengan sangat ketat respon pasar terhadap Black Flag Resynced. Jika penjualannya meledak, besar kemungkinan kita akan melihat remake dari seri legendaris lainnya, seperti Assassin’s Creed 2 yang dibintangi Ezio Auditore, atau bahkan seri perdana yang membawa kita kembali ke masa Altaïr Ibn-La’Ahad.
Saat ini, setidaknya ada satu proyek remake lain yang rumornya tengah dikerjakan secara diam-diam. Banyak spekulasi mengarah pada remake seri pertama Assassin’s Creed yang sudah lama diminta oleh komunitas.
Kembalinya Kejayaan Ubisoft?

Langkah memoles ulang Black Flag dianggap sebagai strategi paling aman sekaligus potensial, mengingat tema bajak laut adalah salah satu puncak kejayaan franchise ini. Dengan rilisnya cuplikan perdana pada 23 April 2026, Ubisoft berharap bisa mengembalikan antusiasme fans yang sempat meredup.
Apakah kamu siap kembali mengarungi lautan Karibia dengan grafis kekinian, atau kamu lebih memilih menunggu remake sang legenda Ezio Auditore?

